A. Pengertian
Kata fonologi secara etimologis terbentuk dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani, yakni fone 'bunyi' dan logos 'ilmu'. Jadi, fonologi adalah bidang ilmu bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa. Tataran fonologi adalah fonem.
B. Fonem
Fonem merupakan satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan arti. Fonem tidak sama dengan huruf. Yang dimaksud dengan fonem adalah bunyi ujaran sebaliknya huruf merupakan lambang dari bunyi ujaran tersebut. Contoh, /a/ adalah fonem dan a adalah huruf. Perbedaan kedua hal ini mengakibatkan ada dua jenis huruf dalam bahasa Indonesia yaitu monograf dan digraf.
Monograf adalah satuan yang terdiri atas satu bunyi dan satu huruf. Misalnya /a/-a sampai dengan /z/ -z. Sebaliknya, digraf adalah satuan yang terdiri atas satu bunyi dan dua huruf. Yakni, vokal (diftong) ai, au, dan oi serta konsonan ny, ng, kh dan sy.
Untuk membuktikan ada tidaknya fonem dalam suatu bahasa dapat diterapkan pasangan minimal. Pasangan minimal memiliki beberapa syarat yaitu minimal dua kata, jumlah fonemnya sama, ada satu fonem yang berbeda, dan arti kedua kata tersebut berbeda.
Misalnya: /buru/ dengan /bulu/ ( /r/tidak sama dengan/l/ (fonemik) )
/atlet/dengan /atlit/ ( /e/tidak sama dengan /i/ (bukan fonetik))
C. Fonem Serapan
Berdasarkan asal-usulnya, fonem dapat dibedakan atas dua hal. Ada fonem asli (berasal dari bahasa Indonesia) dan ada fonem serapan (berasal dari luar bahasa Indonesia) yaitu f, kh, q, sy, v, x, z.
Misalnya: aktif, akhlak, Alquran, dan masyarakat.
D. Perubahan Fonem
Perubahan fonem dalam bahasa Indonesia terdiri atas:
1. Asimilasi, yaitu perubahan fonem dari dua fonem yang tidak sama menjadi dua fonem yang sama.
Misalnya: al-salam assalam in-moral immoral
me-tulis menulis pe-tarik penarik
2. Disimilasi, yaitu perubahan fonem dari dua fonem yang sama menjadi dua fonem yang tidak sama.
Misalnya: sajjana sarjana citta cipta
ber-ajar belajar ber-main bermain
3. Monoftongisasi, yaitu perubahan dari dua vokal (diftong) menjadi satu vokal (monoftong).
Misalnya: pantai pante gulai gule
kerbau kerbo pisau piso
4. Diftongisasi, yaitu perubahan dari satu vokal (monoftong) menjadi dua vokal (diftong).
Misalnya: pante pantai gule gulai
kerbo kerbau piso pisau
5. Sandi, yaitu perubahan dari dua vokal (bukan diftong) menjadi satu vokal.
Misalnya: keratuan keraton durian duren
kabupatian kabupaten
6. Suara bakti, yaitu bunyi yang timbul untuk memperlancar ujaran atau ucapan suatu kata.
Misalnya: putra /putera/ sutra /sutera/
uang /uwang/ pakaian /pakayan/
E. Intonasi
Intonasi adalah kerja sama antara tekanan dan jeda. Intonasi sangat berfungsi dalam membentuk makna. Melalui intonasilah seseorang dapat memperkuat atau memperjelas apa yang diinginkan atau yang dimaksud. Intonasi sering juga disebut dengan irama kalimat atau lagu kalimat.
1. Tekanan adalah variasi suara. Tekanan dapat dibedakan atas:
• Tekanan nada: tinggi rendah suara.
Misalnya: Pergi.
Pergi!
Pergi?
• Tekanan tempo: cepat lambat suara.
Misalnya: 1 2 3 … 4
1, 2, 3, … 4
• Tekanan dinamik: keras lembut suara.
Misalnya: Rita adik saya.
Di sebelah adik saya.
2. Jeda adalah perhentian sejenak dalam pengucapan sebuah kalimat. Jeda biasa dilambangkan dengan /. Permasalahan tentang jeda ini biasa digolongkan ke dalam pembicaraan kalimat ambigu (memiliki makna ganda).
Misalnya: Kucing/makan tikus mati
Kucing makan/tikus mati
Kucing makan tikus/mati
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Juni 2011
FONOLOGI
Rabu, 04 Mei 2011
EYD (Part. 03)
A. Tanda Tititk (.)
1. Akhir kalimat berita
Misalnya: Ayahku telah pulang dari Solo kemarin pagi.
2. Memisah penulisan waktu
Misalnya: Kami menempuh perjalanan selama 10.10.10 jam.
3. Menyatakan jumlah
Misalnya: Buku yang dibaca adik berhalaman 1.234 lembar.
Ayah menerima uang dari Pak Tono sebesar Rp 560.000,00 tadi.
4. Membatasi tiap unsur dalam daftar pustaka, kecuali antara nama yang dibalik dan kota serta penerbit
Misalnya: Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka.
B. Tanda Koma (,)
1. Pemerincian lebih dari dua kata
Misalnya: Saya membeli kertas, pena, dan buku.
Adik membaca komik dan novel.
2. Kalimat majemuk setara mempertentangkan dengan kata penghubung tetapi dan melainkan
Misalnya: Saya ingin datang ke pestamu, tetapi hari hujan.
3. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat mendahului induk kalimat
Misalnya: Ketika kami pulang, ayah sudah berangkat ke Bali.
4. Membatasi kata penghubung antarkalimat
Misalnya: Jadi, kita harus berangkat sekarang!
5. Kata seruan
Misalnya: Oh, begitu!
6. Memisah kalimat petikan langsung
Misalnya: Ayah bertanya, “Kamu dimana sekarang?”
7. Alamat yang ditulis ke samping
Misalnya: Jln. Ahmad Yani no. 23, Kertapati, Palembang
8. Nama yang dibalik dalam daftar pustaka
Misalnya: Alisyahbana, S.T.. 2001. Layar Terkembang. Jakarta: Balai Pustaka
9. Catatan kaki
Misalnya: H.G. Tarigan, Argumentasi, halaman: 24
10. Nama yang diikuti gelar
Misalnya: Sahabuddin, S.Pd. Sartika, M.B.A.
11. Angka persepuluhan
Misalnya: 12,5 83,33
12. Membatasi keterangan subjek (aposisi)
Misalnya: Ani, anak Pak Dahlan, kecelakaan kemarin.
1. Akhir kalimat lengkap yang memerlukan pemerincian
Misalnya: Kami membawa berbagai perlengkapan: masak, mandi, dan tidur.
2. Ungkapan atau pernyataan yang memerlukan pemerincian
Misalnya: Ketua : Abu Sanif
Sekretaris: Dewi Sartika
3. Teks drama
Misalnya: Devi : Hai, Ton! Apa khabar?
Anton: Baik, Vi!
4. Merangkai
Misalnya: Tempo (2003) halaman: 25
Surat Yasin: 56
Eksposisi: Suatu Kajian Ilmiah
D. Tanda Petik Ganda (“...”) 1. Mengapit petikan langsung
Misalnya: “Saya belum siap,” seru Mira, “Tunggu sebentar!”
2. Mengapit judul syair dan judul buku dalam kalimat
Misalnya: Bacalah “Aku” karya Chairil Anwar!
Paman membelikan adik “Sengsara Membawa Nikmat”.
3. Mengapit ungkapan yang belum dipahami secara umum
Misalnya: Kakak memakai celana “cutbrai”.
Baju “yukensi” ini dibeli di pertokoan.
4. Mengapit sebutan Khusus
Misalnya: Hari ini aku belum bertemu dengan “si Brewok”.
Cepat sekali “si Kura-Kura” itu berjalan.
E. Tanda Petik Tunggal (‘...’)
1. Mengapit petikan dalam petikan
Misalnya: Adik berkata, “Aku semalam mendengar ‘krok-krok’ di dapur.”
2. Mengapit makna ungkapan asing
Misalnya: rate of inflation ‘laju inflasi’
Politik devide et impera ‘politik adu domba dan kuasai’
Kita tidak dapat mengarahkan angin
tetapi kita dapat menyesuaikan layar kita
(J. Papper)
Jumat, 29 April 2011
EYD (Part. 02)
A. Huruf Kapital
1. Awal kalimat
Misalnya: Ayah menasehatkan, “Hati-hatilah di jalan!”
2. Keagamaan
Misalnya: Allah
Yang Maha Penyayang
Allkitab
Nabi Muhammad SAW
3. Nama atau nama diri
Misalnya: Sutardji Calzoum Bachri
si Kribo
Syarifuddin bin Musthofa
sang Macan
4. Gelar dan jabatan yang diikuti oleh nama
Misalnya: Sultan Hasanuddin
Perdana Menteri India
5. Nama suku, bangsa, dan bahasa
Misalnya: suku Palembang
bangsa Indonesia
bahasa Gaul
6. Nama tahun, bulan, dan hari
Misalnya: tahun Masehi
bulan Juli
hari Senin
7. Huruf pertama nama geografi
Misalnya: Sungai Musi
Irian Jaya
8. Sapaan (kata ganti orang kedua)
Misalnya: Tuan
Saudara
Anda
Bapak
9. Nama negara, lembaga, dokumen resmi, dan peristiwa bersejarah
Misalnya: Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sepersemar
Perang Teluk
PHK-kan
Kita harus memanjatkan syukur atas nikmat-Nya.
10. Judul
Misalnya: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Kompas
B. Huruf Miring atau Garis Bawah
1. Judul dalam kalimat
Misalnya: Buku Negarakertagama dikarang oleh Prapanca.
Adik membaca Senja di Pulau Kecil dalam lomba kemarin.
2. Menegaskan huruf, kata, kelompok kata, atau kalimat.
Misalnya: Huruf pertama kata cinta adalah c.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
3. Nama ilmiah dan ungkapan asing
Misalnya: Nama ilmiah manggis adalah carcinia mangostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.
C. Tanda Hubung (-)
1. Kata ulang
Misalnya: Berlari-lari
Keinggris-inggrisan
2. Mengeja huruf dan persukuan kata
Misalnya: a-s-m-a-r-a
men-ja-lan-kan
3. Penanggalan yang ditulis dengan angka
Misalnya: Acara resepsi telah diselenggarakan pada tanggal 19-9-1999 lalu.
4. Menegaskan maksud
Misalnya: Ber-evolusi Be-revolusi
Buku-sejarah baru Buku sejarah-baru
5. Merangkai unsur dengan unsur lain
Misalnya: se-India
Adik mendapat peringkat ke-2 di kelasnya.
tahun 50-an
di-smash
D Tanda Pisah (--)
1. Membatasi penyisipan kalimat
Misalnya: Pekerjaan ini—jika aku benar-benar berkonsentrasi—tidak sulit.
2. Mengapit keterang subjek (aposisi)
Misalnya: Jakarta—Ibukota Republik Indonesia—berhawa panas.
3. Mengganti arti sampai
Misalnya: Lomba musikalisasi berlangsung 11—22 Juni 2003.
Peserta lari maraton menempuh rute Palembang—Lampung.
E. Tanda Garis Miring (/)
1. Penomoran surat dan alamat
Misalnya: No. 023/A/OSIS/VII/2003
Jln. Daksinapati Barat/2332, Rawamangun, Jakarta
2. Mengganti kata dan, atau, dan tiap
Misalnya: siswa/siswi
Pengumuman/pemberitahuan
Apel ini berharga Rp 1.500,00/buah.
F. Tanda Titik Koma (;)
1. Mengganti kata penghubung dalam kalimat majemuk setara
Misalnya: Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
Terimakasih
Don't Forget Comment On My blog
1. Awal kalimat
Misalnya: Ayah menasehatkan, “Hati-hatilah di jalan!”
2. Keagamaan
Misalnya: Allah
Yang Maha Penyayang
Allkitab
Nabi Muhammad SAW
3. Nama atau nama diri
Misalnya: Sutardji Calzoum Bachri
si Kribo
Syarifuddin bin Musthofa
sang Macan
4. Gelar dan jabatan yang diikuti oleh nama
Misalnya: Sultan Hasanuddin
Perdana Menteri India
5. Nama suku, bangsa, dan bahasa
Misalnya: suku Palembang
bangsa Indonesia
bahasa Gaul
6. Nama tahun, bulan, dan hari
Misalnya: tahun Masehi
bulan Juli
hari Senin
7. Huruf pertama nama geografi
Misalnya: Sungai Musi
Irian Jaya
8. Sapaan (kata ganti orang kedua)
Misalnya: Tuan
Saudara
Anda
Bapak
9. Nama negara, lembaga, dokumen resmi, dan peristiwa bersejarah
Misalnya: Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sepersemar
Perang Teluk
PHK-kan
Kita harus memanjatkan syukur atas nikmat-Nya.
10. Judul
Misalnya: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Kompas
B. Huruf Miring atau Garis Bawah
1. Judul dalam kalimat
Misalnya: Buku Negarakertagama dikarang oleh Prapanca.
Adik membaca Senja di Pulau Kecil dalam lomba kemarin.
2. Menegaskan huruf, kata, kelompok kata, atau kalimat.
Misalnya: Huruf pertama kata cinta adalah c.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
3. Nama ilmiah dan ungkapan asing
Misalnya: Nama ilmiah manggis adalah carcinia mangostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.
C. Tanda Hubung (-)
1. Kata ulang
Misalnya: Berlari-lari
Keinggris-inggrisan
2. Mengeja huruf dan persukuan kata
Misalnya: a-s-m-a-r-a
men-ja-lan-kan
3. Penanggalan yang ditulis dengan angka
Misalnya: Acara resepsi telah diselenggarakan pada tanggal 19-9-1999 lalu.
4. Menegaskan maksud
Misalnya: Ber-evolusi Be-revolusi
Buku-sejarah baru Buku sejarah-baru
5. Merangkai unsur dengan unsur lain
Misalnya: se-India
Adik mendapat peringkat ke-2 di kelasnya.
tahun 50-an
di-smash
D Tanda Pisah (--)
1. Membatasi penyisipan kalimat
Misalnya: Pekerjaan ini—jika aku benar-benar berkonsentrasi—tidak sulit.
2. Mengapit keterang subjek (aposisi)
Misalnya: Jakarta—Ibukota Republik Indonesia—berhawa panas.
3. Mengganti arti sampai
Misalnya: Lomba musikalisasi berlangsung 11—22 Juni 2003.
Peserta lari maraton menempuh rute Palembang—Lampung.
E. Tanda Garis Miring (/)
1. Penomoran surat dan alamat
Misalnya: No. 023/A/OSIS/VII/2003
Jln. Daksinapati Barat/2332, Rawamangun, Jakarta
2. Mengganti kata dan, atau, dan tiap
Misalnya: siswa/siswi
Pengumuman/pemberitahuan
Apel ini berharga Rp 1.500,00/buah.
F. Tanda Titik Koma (;)
1. Mengganti kata penghubung dalam kalimat majemuk setara
Misalnya: Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
Terimakasih
Don't Forget Comment On My blog
Senin, 25 April 2011
EYD (Part 1)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi dalam bentuk tulisan serta penggunaan tanda baca.
1. Jenis Ejaan
- Ejaan Van Ophuijsen (1901), diresmikan
- Ejaan Republik/Suwandi (1947), diresmikan
- Ejaan Pembaharuan (1956), tidak diresmikan
- Ejaan Melindo (1959), tidak diresmikan
- Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (1967), tidak diresmikan
- Ejaan Yang Disempurnakan (1972), diresmikan dan dipakai sampai sekarang dengan berbagai perbaikan.
2. Persukuan
Persukuan dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan atas :
a. Kata Dasar
· Dua vokal berurutan, kaidah ejaan adalah penggal di antara dua vokal tersebut
Misalnya, main menjadi ma-in (KV-VK) dan saat menjadi sa-at (KV-VK)
· Dua konsonan berurutan,kaidah ejaan adalah penggal di antara dua konsonan tersebut.
Misalnya, mandi menjadi man-di (KVK-KV) dan sombong menjadi som-bong (KVK-KVK)
· Dua vokal mengapit satu konsonan,kaidah ejaan adalah penggal antara vokal pertama dengan konsonan
Misalnya, bapak menjadi ba-pak (KV-KVK) dan barang menjadi ba-rang (KV-KVK)
b. Kata Berimbuhan
Pola persukuan untuk kata berimbuhan adalah penggal antara imbuhan dan kata dasar lalu penggal kembali kata dasar seperti pola persukuan di atas.
Misalnya, berlari menjad ber-la-ri (KVK-KV-KV) dan berpakaian menjadi ber-pa-kai-an (KVK-KV-KV-VK)
|
3. Gabungan Kata
- Gabungan Kata yang mendapatkan awalan dan akhiran, kaidah ejaan adalah ditulis serangkai.
Misalnya: menggarisbawahi dilipatgandakan
- Gabungan kata yang mendapatkan awalan atau akhiran, kaidah ejaan adalah ditulis terpisah.
Misalnya: bertepuk tangan sebar luaskan
4. Partikel
a. Pun
· Pun ditulis serangkai adalah adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, begitupun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun.
· Pun ditulis terpisah adalah apabila artinya saja atau juga.
Misalnya: Saya pun akan datang ke pesta itu.
Apa pun yang terjadi aku tetap akan datang ke pesta itu.
b. Per
· Per ditulis serangkai apabila bertemu dengan bilangan pecahan
Misalnya: Ayah mendapatkan bagian dua perlima dari harta itu.
Kami menunggumu di perempatan
· Per ditulis terpisah apabila bermakna mulai, demi, dan tiap.
Misalnya: Sanksi itu berlaku per 1 Agustus 2003.
Masuklah ke ruangan satu per satu!
c. Maha
· Maha ditulis serangkai apabila bertemu dengan kata dasar
Misalnya: Mahakuasa Mahabesar mahasiswa
Kecuali maha bertemu dengan kata esa: Maha Esa
· Maha ditulis terpisah apabila bertemu dengan kata berimbuhan
Misalnya: Maha Penyayang Maha Pengasih
5. Penulisan Bilangan
a. Bilangan yang terdiri atas satu atau dua kata, kaidah ejaan adalah ditulis dengan huruf
Misalnya: Ayam yang dibeli ibu dua ekor.
Itik yang dipelihara kakek berjumlah lima belas ekor.
b. Bilangan yang terdiri lebih dari dua kata, kaidah ejaan adalah ditulis dengan angka.
Misalnya: Tupai yang ada di kebun binatang ini berjumlah 35 ekor.
Sel darah putih yang dimiliki manusia berjumlah 6.000–9.000 buah sel.
Catatan: bilangan yang lebih dari dua kata yang ditulis dengan angka tidak boleh berada di awal kalimat. Sedapat mungkin ubahlah kalimat itu sehingga bilangan berada di tengah kalimat.
Misalnya: 35 ekor harimau sumatera dikirim ke kebun binatang. (salah)
Tiga puluh lima ekor harimau sumatera dikirim ke kebun binatang. (salah)
Harimau sumatera dikirim ke kebun binatang berjumlah 35 ekor. (benar)
c. Bilangan yang berbentuk pemerincian, kaidah ejaan adalah ditulis dengan angka.
Misalnya: Ibu membeli 25 butir telur, 35 butir kelapa, dan 5 ekor.
Kita selalu cukup waktu, asal kita mau
menggunakannya (W.J. Brown)
Selasa, 22 Maret 2011
SPBI
A. Sejarah Bahasa Indonesia
B. Rumpun Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak dahulu sudah dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca) bukan hanya di Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.
Pertanyaan yang mungkin timbul, mengapa bahasa Melayu dijadikan bahasa nasional? Ada empat faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yakni:
· Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia
· Sistem bahasa Melayu sederhana
· Suku-suku lain dengan suka rela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia
· Bahasa Melayu memili kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan
- Kerajaan Sriwijaya (Abad VII)
Pada abad VII, di kerajaan Sriwijaya telah digunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca, bahasa kerajaan, bahasa perdagangan, dan bahasa pendidikan. Hal ini dapat dibuktikan oleh adanya prasasti berikut :
· Prasasti Kedukan Bukit (683) di Palembang
· Prasasti Talang Tuo (684) di Palembang
· Prasasti Kota Kapur (686) di Bangka Barat
· Prasasti Karang Brahi (688) antara Jambi dan Sungai Musi
· Prasasti Gandasuli (832) di Jawa Tengah
· Prasasti Bogor (942) di Bogor
- I Tsing
I Tsing adalah seorang ahli bahasa yang datang dari Tiongkok. Dia menemukan bukti bahwa pada akhir abad VII di Nusantara telah digunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perhubungan.
- Stuitterheim
Stuitterheim menemukan sebuah makam kuno yang bertuliskan huruf Melayu di daerah Kalimantan
- Lambargo Pegafetta (1522)
Pada tahun 1522 Lambargo Pegafetta berhasil menyusun sebuah kamus berbahasa Melayu kuno di Kepulauan Maluku
- A. Van Ophuijsen (1901)
Ejaan resmi bahasa Melayu yang pertama telah disusun oleh A.Van Ophuijsen pada tahun 1901 dan dimuat dalam kitab Logat Melayu.
- Dr. G. A. Z. Hazeu
Hazeu merupakan pemimpin Taman Bacaan Rakyat. Pada tahun 1917 Taman Bacaan Rakyat berubah nama menjadi Balai Pustaka yang menerbitkan beberapa majalah dan sekaligus merupakan angkatan sastra pertama di Indonesia.
- Sumpah Pemuda
Pada tanggal 28 Oktober 1928 diadakan Kongres Pemuda yang menghasilkan Sumpah Pemuda dan sekaligus lahirlah bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia dan bukan lagi bahasa Melayu.
- Pujangga Baru
Pada tahun 1933 resmi berdiri angkatan Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana.
- Masa Penjajahan Jepang (1942 – 1945)
Pada masa penjajahan Jepang, bahasa Indonesia berkembang pesat karena Jepang melarang menggunakan bahasa Belanda.
- Undang-Undang Dasar 1945
Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditetapkan UUD 1945 yang pada bab XV pasal 36 disebutkan bahasa resmi negara adalah bahasa Indonesia. Dengan demikian lahirlah bahasa negara.
- Geneologi
Berdasarkan geneologi atau asal-usulnya, bahasa Indonesia berada pada rumpun Austris dan subrumpun austronesia. Batas penyebaran Austronesia adalah:
· Utara yaitu Formosa
· Selatan yaitu Selandia Baru
· Timur yaitu Rapanui (Paas)
· Barat yaitu Madagaskar
- Tipologi
Berdasarkan tipologi atau sistem morfologi kata, rumpun bahasa terbagi atas :
· Isolatif, yakni bahasa yang memiliki tipe atau bersifat tertutup (tidak mengalami perubahan dan perkembangan). Contoh, bahasa Jepang.
· Fleksi, yakni bahasa yang memiliki tipe atau mengalami perubahan secara deklinasi (nomina) dan konjugasi (verba). Contoh, bahasa Inggris.
· Aglutinatif, yakni bahasa yang memiliki tipe atau mengalami perubahan dalam bentuk imbuhan dan penyerapan dari bahasa lain. Contoh, bahasa Indonesia.
C. Kedudukan Bahasa Indonesia
- Sebagai Bahasa Nasional (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928)
· Lambang kebanggaan nasional
· Lambang identitas nasional
· Alat pemersatu bangsa
· Bahasa penghubung antarsuku dan budaya
- Sebagai Bahasa Negara (UUD 1945)
· Bahasa resmi negara
· Bahasa pengantar pendidikan
· Bahasa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
· Bahasa penghubung di tingkat nasional
Langganan:
Postingan (Atom)
Metode Pembelajaran
View more presentations from Hayatiamaliah